Tampilkan postingan dengan label elongmpugi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elongmpugi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2020


 ELONGMPUGI 

Sering didengar istilah elongmpugi, istilah ini masih sering didengarkan di daerah yang  penduduknya bersuku bugis.  Seperti halnya di Kabupaten Bone, Kabupaten Wajo, Kabupaten Soppeng, dan di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.

Elongmpugi adalah sejenis sastra lisan daerah-daerah yang ada di Sulawesi Selatan. Dari bentuknya dapat dikatakan bahwa elongmpugi adalah sejenis syair yang dinyanyikan oleh orang-orang terdahulu yang berisi petuah dan nasehat. Syair-syair elongmpugi memiliki keanekaragaman tema, karena secara umum dapat disesuaikan dengan suasana penggunaannya. Lantunan elongmpugi pada saat acara adat pelamaran seorang gadis, tentu akan berbeda dengan syair yang digunakan pada acara-acara adat yang lain.

Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan di Indonesia pada umumnya.

Masalah yang ada saat ini adalah kurangnya perhatian masyarakat terhadap sastra daerah. Sastra daerah telah berada di ambang kepunahan karena hanya segelintir orang yang punya kepedulian terhadapnya. Budaya luar yang dengan mudah diperoleh dari media cetak maupun elektronik juga sangat mempengaruhi perkembangan sastra daerah. Sebagai bukti, jika dicoba menanyakan pada anak-anak cerita-cerita daerah, misalnya,  Nene Mallomo yang deberi gelar Tau Accana Sidenreng, rata-rata mereka akan mengerutkan dahi karena tidak mengerti cerita tersebut.

Pada umumnya masyarakat saat ini belum menyadari nilai nilai  yang dapat diperoleh dari sastra daerah. Kenyataan ini adalah petanda semakin terpinggirkannya sastra daerah yang ada di Sulawesi Selatan.

Masalah pelestarian dan pengembangan sastra daerah harus menjadi tanggungjawab bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga warga negara. "Kalau menunggu aksi dari pemerintah, kapan akan ada upaya?(Effendy, 1973:43)

Media cetak termasuk surat kabar dapat memberikan dukungan dalam penyebarluasan karya sastra. "Media cetak,  memiliki tanggung jawab untuk mengomunikasikan informasi sastra ke khalayak sastra lewat pemberitaan,". Oleh karena itu, Dalam pelestarian dan pengembangan bahasa melalui karya sastra, kalangan birokrat perlu bekerja sama dengan semua pihak. Selama ini, hal-hal seperti itu menjadi kelemahan (Effendy, 1973: 37).

Dunia sastra jangan hanya dilihat sebagai sebuah buku, tapi juga harus dilihat dari dampaknya, produksi, peredaran, dan lainnya. "Ini membutuhkan sumber daya manusia, yang secara tidak langsung memberikan peluang dalam menyediakan lapangan kerja baru" (Effendy, 1973: 39)

Secara Nasional, perkembangan sastra daerah memang masih tergolong cukup, peneltian-penelitian yang membahasa sastra daerah masih dapat dijumpai di beberapa perpusatakaan kampus maupun perpusatakaan daerah dan wilayah. Hal ini membuktikan bahwa sastra Indonesia dan daerah masih tetap diperhatikan meskipun jumlahnya sangat minoritas dibanding penelitian-penelitian lain.

Salah satu bentuk karya sastra daerah yang merupakan peninggalan budaya di Sulawesi Selatan  yakni elongmpugi. Masih teringat di benak kita ketika dininabobokkan orang tua dengan melantungkan elongmpugi. Bahkan, hingga saat ini masih sering kita dengarkan orang tua meninabobokkan anak atau cucunya dengan elongmpugi.

Jika ditelaah secara mendalam, yang disenandungkan itu bukan sekadar nyanyian. Namun, berisi petuah dan nasihat. Kekurangan kita saat ini, senandung itu hanya dijadikan pengantar tidur semata, tanpa menelaah makna yang terkandung dalam senandung itu.

Meski demikian, elongmpugi hingga saat ini masih bertahan ditengah-tengah gempuran lagu daerah bugis.  Bahkan, para produser lagu daerah tak jarang mengemas kembali elongmpugi menjadi lagu daerah terkini dengan kemasan musik yang berbeda. Di samping itu, dewasa ini dirasakan elongmpugi kembali disenandungkan bersama kesenian daerah musik Kacapi yang kerap kali tampil pada acara-acara tertentu. Hal ini  menjadi penghargaan tersendiri bagi keberadaan lagu daerah zaman dahulu yang dikenal dengan Elongmpugi.

Elongmpugi pada dasarnya hampir sama dengan osong,  sama-sama sebagai peninggalan budaya, dan memiliki makna yang mendalam. Elongmpugi merupakan  sebuah karya sastra bugis yang berisikan untaian kata-kata yang indah dan memiliki makna yang sangat dalam. Elongmpugi dalam kesehariannya digunakan untuk menyampaikan pesan, keinginan, maupun penolakan yang secara halus disampaikan kepada orang lain.

Permainan kata-kata halus dalam elongmpugi dapat dicontohkan sebagai berikut.

Duami  kuala sappo

Unganna panasae sibawa

Belona kanukue

Artinya: Dua kujadikan pagar, bunga nangka, hiasan kuku

Gellang Riwata Majjekko

Anre-anrena menree

Balinna ulu bale

Artinya adalah meloka riko yang bermakna aku mau denganmu. Kata-kata ini disampaikan ketika seorang pemuda hendak menyampaikan rasa sukanya kepada seorang gadis.

Inung-inungeng mapekkee

Riakkabua  tappere

Lisena unnyie

artinya adalah teaka ridi yang bermakna aku tidak mau dengannmu. Meski makna katanya berisi penolakan namun tetap disampaikan secara halus.

Contoh di atas bemberikan gambaran begitu halus permainan kata-kata elongmpugi  yang syarat dengan nilai-nilai sebagai salah satu peninggalan budaya. Tak salah jika elongmpugi hingga saat ini masih sangat indah di pendengaran jika disenandungkan dengan baik oleh oran lain.

Sebagai gejala manusia, kebudayaan adalah setua sejarah manusia sendiri, yakni manusia sebagai makhluk individual dan sekaligus makhluk sosial. Penyimpulan ini sebenarnya tidak lebih dari konsekuensi logis dari kenyataan manusia sebagai makhluk individual dan makhluk sosial. Bisa juga dirumuskan bahwa manusia adalah makhluk yang membudaya dalam kebersamaan dengan sesamanya. Ini dapat disaksikan sejak kehidupan masyarakat manusia purba yang terutama ditandai oleh kebutuhan dasar yang didorong oleh nalurinya, sampai dengan tahapan kehidupan yang ditandai oleh fungsi nuraninya Hassan (1989: 13).

Dalam sejarah kemanusiaan di Sulawesi Selatan keberadaan elongmpugi merupakan pengejawantahan perilaku dan karya manusia yang bisa menjadi sumbangan pada terwujudnya suatu cara hidup yang memiliki ciri khas. Lestarinya sumbangan itu kemudian dapat melekat dan menunggal pada kehidupam bersama, sehingga apa yang tampil sebagai perilaku karya manusia itu semakin kentara kaitannya dengan pandangan hidup tertentu yang dimiliki oleh kebersamaannya.

Kondisi kebersamaan itulah yang nyata berpengaruh pada cara dan pandangan hidup yang berciri khas itu. Ketika manusia masih hidup terutama demi survival saja, maka makan-minum dan reproduksi menguasai daur hidupnya. Pada tahap ini hukum Darwin Struggle for survival dan survival of the fittest hampir penuh menentukan pola perilaku individual dan kolektif (Hassan, 1989: 14).

Setahap kemudian, tatkala manusia tidak lagi sekadar mencari dan mengumpulkan makanan, melainkan juga menghasilkan dan mengolah kebutuhan makan-minumnya, maka terjadilah pula perubahan dalam daur hidupnya sehari-hari. manusia mulai merangcang berbagai alat bagi kelangsungan kehidupannya, mulai bersastra dengan menciptakan syair-syair berbahasa daerah, senandung yang sarat dengan pesan, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu  kemudian menjadi kebudayaan nasional.

Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, kita memiliki konstribusi dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya. Kita harus berusaha mencegah timbulnya kesenjangan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya, sehingga upaya untuk mengembangkan kebudayaan tidak tersendat-sendat

Dalam UUD 1945 pasal 32: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa kebudayaan bangsa ialah  kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha dan budi rakyat Indonesia seluruhnya  (Hassan, 1989: 17).