HAKIKAT DAN PENGERTIAN RETORIKA
A. Pengertian Retorika
Retorika
atau dalam bahasa Inggris rhetoric
bersumber dari perkataan latin rhetorica
yang berarti ilmu bicara. Pada abad ke 5 sebelum masehi untuk pertama kali
dikenal suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia sebagai
fenomena sosial. Ilmu ini dinamakan dalam bahasa Yunani “rhetorike” yang dikembangkan di Yunani purba, kemudian abad-abad
berikutnya di kembangkan di Romawi dalam bahasa latin “retorika” (dalam bahasa
Inggris “rhetoric” dalam bahasa Indonesia “retorika”). Cleanth Brooks dan
Robert Penn Warren dalam bukunya, Modern Rhetoric,
mendefinisikan retorika sebagai The art
of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif.
Dari pengertian tersebut menjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit;
mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga
tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai
public speaking atau pidato didepan
umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato didepan
umum, tetapi juga termasuk seni menulis. Di Yunani, negara pertama yang menggembangkan
retorika di pelopori oleh Georgias.
Dalam Bahasa Yunani (ῥήτωρ,
rhêtôr, orator, teacher) retorika adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara
persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara,
emosional atau argumen (logo). Plato secara umum memberikan defenisi terhadap
retorika sebagai suatu seni manipulatif yang bersifat transaksional
dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar
melalui pidato, dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai,
kepercayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969)
sebagai substansi dengan penggunaan media oral atau tertulis.
Retorika
memberikan suatu kasus lewat bertutur (menurut kaum sofis yang terdiri dari
Gorgias, Lysias, Phidias, Protagoras dan Socrates akhir abad ke 5 SM), yang
mengajarkan orang tentang keterampilan berbicara dan menemukan sarana
persuasif yang objectif dari suatu kasus. Studi yang mempelajari kesalahpahaman
serta penemuan saran dan pengobatannya. Retorika juga mengajarkan tindak
dan usaha yang efektif dalam persiapan, penetaan dan penampilan tutur untuk
membina saling pengertian dan kerjasama serta kedamaian dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dalam ajaran
retorika Aristoteles, terdapat tiga teknis alat persuasi (mempengaruhi) politik
yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan
diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan
saat sekarang. Retorika forensik lebih
memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa
lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau
ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan
pada wacana memuji dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk
seseorang, lembaga maupun gagasan.
Pengertian retorika menurut para
ahli
1.
Menurut Georgias retorika adalah ilmu yang mempelajari
dan menelaah proses pernyataan manusia.
2.
Menurut Protagoras mengatakan bahwaretorika adalah
kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan keindahan bahasa.
3.
Menurut Socrates, retorika adalah demi kebenaran
dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog kebenaran akan timbul
dengansendirinya.
4.
Menurut Plato retorika adalah sebagai metode
pendidikan dalam rangkamencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka
upayamempengaruhi rakyat.
Kritikan Plato terhadap retorika termuat dalam buku dialognya yang berjudul
Georgias. Dikemukakannya bahwa
retorika adalah:
1.
Kepandaian atau ketangkasan berbicara untuk
menyenangkan dan memuaskan pendengar
2.
Cara orang berbicara untuk menjilat saja
3.
Perilaku berbahasa yang tidak baik karena merubah
pikiran orang lain dengan mengabaikan eksistensi orang lain atau audiens
4.
Bukan merupakan kemampuan seni, melainkan hanya
merupakan alat saja.
5.
Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu uraianyang
harus singkat, jelas dan meyakinkan dengan keindahan bahasa yang disusununtuk
hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah
(instructive),mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive).
Aristoteles sangat besar pengaruhnya sebagai tokoh retorika klasik.
Pandangan Aristoteles dalam bidang retorika sangat mendasari. Hakikat retorika
menurutnya adalah kemampuan untuk melihat perangkat persuasi yang terdapat
dalam situasi tertentu. Ditambahkannya pula bahwa retorika merupakan pasangan
(counterpart) dialektika. Retorika dan dialektika merupakan cara menjelaskan
suatu masalah. Retorika berkenaan dengan persuasi dan dialektika berhubungan
dengan penalaran. Keduanya akrab dengan aktivitas kehidupan manusia dalam
bermasyarakat. Selain itu, Aristoteles mengemukakan pula bahwa retorika
adalah kemampuan seni yang mempunyai beberapa manfaat, yaitu:
1)
Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta
memberantas kebohongan dan kezaliman.
2)
Untuk menyampaikan informasi dengan cara-cara yang
sesuai kepada masyarakat umum;
3)
Untuk menjamin bahwa tidak ada argument yang
terlupakan karena retorika meneliti suatu masalah dari dua sisi; dan
4)
Untuk mempertahankan diri dari serangan yang tidak
adil.
6.
Cicero termasuk pula tokoh retorika klasik.
Beberapa ajarannya yang
merupakan konsep dasar retorika sebagai berikut:
1)
Hanya manusia
yang mempunyai bahasa. Karena itu, seseorang dapat berbeda dengan orang
lain karena ia mempunyai kemampuan berbahasa yang lebih baik
2)
Kemampuan berbicara berfungsi untuk mempersuasi
pendengar.
B.
Retorika
Sebagai Suatu Proses Komunikasi
1.
Pengertian Komunikasi
Komunikasi
adalah proses pengalihan makna antarpribadi manusia atau tukar-menukar berita
dalam sistem informasi. Ada empat faktor yang menjadi prasyarat terjadinya
suatu proses komunikasi yaitu:
1)
Komunikator, adalah orang atau pribadi yang
mengatakan, mengucapkan atau menyampaikan sesuatu.
2)
Warta, pesan atau informasi, yaitu apa yang diucapkan;
apa yang disampaikan.
3)
Resipiens, adalah orang yang mendengar atau menerima
apa yang dikatakan atau disampaikan oleh komunikator.
4)
Medium, adalah tanda yang dipergunakan oleh
komunikator untuk menyampaikan warta atau pesan.
Supaya
komunikasi dapat terjadi, dalam arti terjadi saling pengertian antara
komunikator dengan resipens, harus ada perbedaan tanda, yang dimiliki oleh
komunikator dan resipens, dapat dimengerti oleh keduanya.
Apabila
komunikator ingin menyampaikan sesuatu kepada resipens, berarti dia memiliki
suatu maksud di dalam pikiran. Sesuatu yang ada di dalam pikiran komunikator
ini, harus diterjemahkan ke dalam kode-kode yang dapat dimengerti oleh
resipiens. Proses menerjemahkan sesuatu ke dalam kode-kode disebut kodefiksasi
(Kodierung). Pendengar menangkap sesuatu yang dikodefikasikan oleh komunikator,
lalu menerjemahkan ke dalam pengertiannya. Proses yang dilakukan resipiens ini
disebut dekodefikasi (Dekodierung).
Secara
singkat proses komunikasi ini dapat dirumuskan sebagai berikut: siapa yang
mengatakan (wer); apa yang dikatakan
(sagt was); kepada siapa (zu wem); melalui medium apa (durch welches medium); dan dengan efek
apa (mit welcher wirkung).
Jadi,
komunikasi adalah saling hubungan antara komunikator dan resipiens, dimana
komunikator menyampaikan sesuatu pesan kepada resipiens, melalui medium untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
2.
Retorika sebagai Proses Komunikasi
Sebuah
contoh: sebuah mobil bekas akan dijual. Pemilik mobil tentu ingin menjualnya
dengan harga yang memuaskan (tujuan). Dalam pembicaraan dengan calon pembeli,
penjual tentu tidak hanya menjelaskan tentang merk, tipe, tahun keluaran, dan
cirri khas mobil, tetapi dia pasti juga akan memuji-muji mobil tersebut.
Misalnya: terpelihara baik, bentuknya sangat cocok dengan keadaan jalan dan tidak
pernah terjadi kecelakaan. Singkatnya: mobil bekas yang paling ideal, yang
apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu murah.
Di
lain pihak calon pembeli juga ingin supaya dapat membeli mobil itu dengan harga
yang murah (tujuan). Oleh karena itu, terjadi tawar menawar dalam perdagangan,
dimana penjual dan pembeli saling memberi argumentasi untuk mencapai tujuannya
masing-masing. Dari contoh di atas
dapat dilihat aspek-aspek komunikasi retoris sebagai berikut:
1)
Seorang pembicara menyampaikan kepada;
2)
Seorang pendengar sebagai kawan bicara atau pelanggan;
3)
Dengan maksud dan tujuan tertentu (menjual mobil);
4)
Memberikan argumen-argumen terhadap isi pembicaraan;
5)
Sambil mendengar dan mempertimbangkan argument-argumen
balik dari pendengar.
3.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi Retoris
Faktor-faktor
yang mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris ini terdapat pada setiap unsur
komunikasi seperti:
a.
Pada Komunikator
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi retoris adalah:
a)
Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan
berkomunikasi.
Yang dimaksudkan adalah penguasaan
bahasa dan keterampilan mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media
komunikasi untuk mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk
mengenal dan menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu
yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara
komunikator dan resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses
komunikasi.
b)
Sikap komunikator
Sikap komunikator seperti agresif
(menyerang) atau cepat membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap
rendah hati, rela mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang
besar dalam proses komunikasi retoris.
c)
Pengetahuan umum
Demi efektivitas dalam komunikasi
retoris, komunikator sebaiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena
dengan begitu dia dapat mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti
mereka secara lebih baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang
dibeberkan secara mendalam, teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan
mengerti hal-hal praktis dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat
menyampaikan sesuatu yang mampu menggugah hati mereka.
d)
Sistem sosial
Setiap komunikator berada dan hidup
dalam sistem masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jabatan yang dimiliki
komunikator di dalam masyarakat sangat
mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya: sebagai pemimpin atau
bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
e)
Sistem kebudayaan
Sistem kebudayaan yang dimiliki oleh
komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris. Tingkah
laku, tata adab, dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu kebudayaan
tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi.
b.
Faktor-faktor Pada Resipiens
Faktor-faktor
ini pada umumnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikator.
1) Pengetahuan
tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi.
Supaya dapat
terjadi komunikasi, resipiens harus menguasai bahasa yang dipergunakan.
Keduanya hanya dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti apabila mereka
mempergunakan pembendaharaan kata yang sama dan yang dimengerti oleh kedua
belah pihak. Komunikasi tidak akan terjadi apabila bahasa yang dipergunakan
oleh komunikator tidak dimengerti oleh resipiens. Dalam hubungan dengan hal
ini, perlu diperhatikan bahwa pendengar mempunyai cara mendengar dan mengerti sendiri,
yang dapat berbeda dari apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh komunikator.
2)
Sikap resipiens
Sikap-sikap positif seperti terbuka,
senang, tertarik, dan simpatik akan memberi pengaruh positif dalam proses
komunikasi; sebaliknya sikap-sikap negatif seperti tertutup, jengkel, tidak
simpatik terhadap komunikator akan mendatangkan pengaruh negatif.
3)
Sistem sosial dan kebudayaan
Sistem sosial dan kebudayaan
tertentu dapat menghasilkan sifat dan karakter khusus pada resipiens. Orang
dapat bersifat patuh, rendah hati, suka mendengar, tidak banyak bicara atau
tidak berani menantang. Dilain pihak orang bisa menjadi kritis, suka membantah,
dan tidak mudah tunduk kepada pimpinan. Juga cara menyampaikan sesuatu tidak
sama di antara masyarakat. Sebab itu komunikator harus memperhatikan segala
faktor ini, apabila dia mau mengharapkan efek yang besar dalam proses
komunikasi dengan para pendengarnya.
c.
Faktor-faktor Pada Pesan dan Medium
Antara
komunikator dan resipiens ada pesan dan medium. Kedua faktor ini perlu
diperhatikan oleh komunikator secara khusus dalam proses komunikasi retoris.
1.
Elemen-elemen pesan
Komunikator menerjemahkan pesan
dengan mempergunakan medium. Komunikator harus memperhatikan elemen-elemen yang
membentuk pesan, supaya komunikasi dapat membawa efek yang besar. Elemen-elemen
itu berupa kata-kata dan kalimat, pikiran atau ide yang dibeberkan, alat peraga
yang dipakai untuk mengkonkretisasi pesan, suara, tekanan suara, artikulasi,
mimik dan gerak-gerak untuk memperjelas pesan yang disampaikan.
2.
Struktur pesan
Yang perlu diperhatikan yaitu
susunan organis di mana elemen-elemen itu dikedepankan untuk mengungkapkan
pesan. Pada prinsipnya struktur atau susunan pesan harus jelas dan mudah
dimengerti.
3.
Isi pesan
Isi pesan yang diungkapkan lewat
medium harus dipertenggangkan dengan situasi resipiens. Isi pesan seharusnya
mudah ditangkap, tidak boleh terlalu sulit, dan tidak mengandung terlalu banyak
kebenaran, karena dapat membingungkan resipiens. Sebaiknya isi pesan dibatasi
pada satu atau dua pokok pikiran yang diuraikan secara jelas, terinci, dan
tepat.
4.
Proses pembeberan
Yang dimaksudkan adalah cara
membawakan dan mengemukakan pesan dari komunikator. Ada tiga kemungkinan yang
dapat dipilih, yaitu membawakan secara bebas, tanpa teks, terikat pada teks,
atau setengah bebas. Ketiga kemungkinan ini membawa efek yang berbeda dalam
proses komunikasi.
4.
Kegunaan Komunikasi Retoris
Konrad Lorenz mengatakan,
“Apa yang diucapkan tidak berarti juga didengar; apa yang didengar tidak
berarti juga dimengerti; apa yang dimengerti tidak berarti juga disetujui; apa
yang disetujui tidak berarti juga diterima; apa yang diterima tidak berarti
juga dihayati; apa yang dihayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.”
Kalimat-kalimat
di atas mengungkapkan kesulitan dalam proses komunikasi antarmanusia. Antara
ide atau pikiran dan realisasinya yang konkret terbentang satu jalan panjang,
yang memiliki berbagai macam kesulitan dalam penyampaian, sehingga dapat
mengurangi efektivitas dalam proses komunikasi.
Oleh karena
itu, komunikasi retoris itu penting supaya apa yang diucapkan dapat didengar;
apa yang didengar dapat dimengerti; apa yang dimengerti dapat disetujui; apa
yang disetujui dapat diterima; apa yang diterima dapat dihayati dan apa yang
dapat dihayati dapat mengubah tingkah laku.
C. Pembagian retorika :
Retorika adalah bagian dari ilmu bahasa (Linguistik),
khususnya ilmu bina bicara (Sprecherziehung). Retorika sebagai bagian dari ilmu
bina bicara ini mencakup:
1. Monologika
Monologika
adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, di mana hanya seorang yang
berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata
sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.
2. Dialogika
Dialogika
adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, di mana dua orang atau lebih
berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika
yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.
3. Pembinaan
Teknik Bicara
Efektivitas
monologika dan dialogika tergantung juga pada teknik bicara. Teknik bicara
merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena itu pembinaan teknik bicara
merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam bagian ini, perhatian lebih
diarahkan pada pembinaan teknik nafas, teknik mengucap, bina suara, teknik
membaca dan bercerit
4. Manfaat mempelajari retorika
Manfaat mempelajari retorika
diantaranya yaitu :
1. Membimbing
penutur mengambil keputusan yang tepat.
2. Membimbing
penutur secara lebih baik memahami masalah kejiwaan manusia pada umumnya dan
kejiwaan penanggap tutur yang akan dan sedang dihadapi.
3. Membimbing
penutur menemukan ulasan yang baik.
4. Membimbing
penutur mempertahankan diri serta mempertahankan kebenaran dengan alasan yang
masuk akal.

Nama:isnaini khoirun nisa
BalasHapusKelas:X ips2
Nama:Elly Yanti
BalasHapusKelas: X IPS 2
Nama:khusnul khatimah
BalasHapusKls:Xips2
nama:Iin Heryani
BalasHapusKelas:X ips2
Aulia Ramadani
BalasHapusIPS 2
NAMA : NURUL WAHYUNI
BalasHapusKELAS : X MIPA 2
NO URUT : 26