Jumat, 21 Agustus 2020

 HAKIKAT DAN PENGERTIAN RETORIKA

A.     Pengertian Retorika
Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Pada abad ke 5 sebelum masehi untuk pertama kali dikenal suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia sebagai fenomena sosial. Ilmu ini dinamakan dalam bahasa Yunani “rhetorike” yang dikembangkan di Yunani purba, kemudian abad-abad berikutnya di kembangkan di Romawi dalam bahasa latin “retorika” (dalam bahasa Inggris “rhetoric” dalam bahasa Indonesia “retorika”). Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya, Modern Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai The art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Dari pengertian tersebut menjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit; mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking atau pidato didepan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato didepan umum, tetapi juga termasuk seni menulis. Di Yunani, negara pertama yang menggembangkan retorika di pelopori oleh Georgias.
Dalam Bahasa Yunani (ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) retorika adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo). Plato secara umum memberikan defenisi terhadap retorika  sebagai suatu seni manipulatif yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai substansi dengan penggunaan media oral atau tertulis.
Retorika memberikan suatu kasus lewat bertutur (menurut kaum sofis yang terdiri dari Gorgias, Lysias, Phidias, Protagoras dan Socrates akhir abad ke 5 SM), yang mengajarkan orang tentang keterampilan berbicara dan  menemukan sarana persuasif yang objectif dari suatu kasus. Studi yang mempelajari kesalahpahaman serta penemuan saran dan pengobatannya. Retorika juga mengajarkan  tindak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penetaan dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerjasama serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam ajaran retorika Aristoteles, terdapat tiga teknis alat persuasi (mempengaruhi) politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada wacana memuji dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.

Pengertian retorika menurut para ahli
1.     Menurut Georgias retorika adalah ilmu yang mempelajari dan menelaah proses pernyataan manusia.
2.     Menurut Protagoras mengatakan bahwaretorika adalah kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan keindahan bahasa.
3.     Menurut Socrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengansendirinya.
4.     Menurut Plato retorika adalah sebagai metode pendidikan dalam rangkamencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka upayamempengaruhi rakyat.
Kritikan Plato terhadap retorika termuat dalam buku dialognya yang berjudul Georgias. Dikemukakannya bahwa retorika adalah:
1.     Kepandaian atau ketangkasan berbicara  untuk menyenangkan dan memuaskan pendengar
2.     Cara orang berbicara untuk menjilat saja
3.     Perilaku berbahasa yang tidak baik karena merubah pikiran orang lain dengan  mengabaikan eksistensi orang lain atau audiens
4.     Bukan merupakan kemampuan seni, melainkan  hanya merupakan alat saja.
5.     Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu uraianyang harus singkat, jelas dan meyakinkan dengan keindahan bahasa yang disusununtuk hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah (instructive),mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive).
Aristoteles sangat besar pengaruhnya sebagai tokoh retorika klasik. Pandangan Aristoteles dalam bidang retorika sangat mendasari. Hakikat retorika menurutnya adalah kemampuan untuk melihat perangkat persuasi yang terdapat dalam situasi tertentu. Ditambahkannya pula bahwa retorika merupakan pasangan (counterpart) dialektika. Retorika dan dialektika merupakan cara menjelaskan suatu masalah. Retorika berkenaan dengan persuasi dan dialektika berhubungan dengan penalaran. Keduanya akrab dengan aktivitas kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Selain itu,  Aristoteles mengemukakan pula bahwa retorika adalah kemampuan seni yang mempunyai beberapa manfaat, yaitu:
1)       Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberantas kebohongan dan kezaliman.
2)       Untuk menyampaikan informasi dengan cara-cara yang sesuai kepada masyarakat umum;
3)       Untuk menjamin bahwa tidak ada argument yang terlupakan karena retorika meneliti suatu masalah dari dua sisi; dan
4)       Untuk mempertahankan diri dari serangan yang tidak adil.

6.           Cicero termasuk pula tokoh retorika klasik.
                 Beberapa ajarannya yang merupakan konsep dasar retorika sebagai berikut:
1)      Hanya manusia yang mempunyai bahasa. Karena itu, seseorang dapat  berbeda dengan orang lain karena ia mempunyai kemampuan berbahasa yang lebih baik
2)     Kemampuan berbicara berfungsi untuk mempersuasi pendengar.

B.      Retorika Sebagai Suatu Proses Komunikasi
         1.             Pengertian Komunikasi
            Komunikasi adalah proses pengalihan makna antarpribadi manusia atau tukar-menukar berita dalam sistem informasi. Ada empat faktor yang menjadi prasyarat terjadinya suatu proses komunikasi yaitu:
1)     Komunikator, adalah orang atau pribadi yang mengatakan, mengucapkan atau menyampaikan sesuatu.
2)     Warta, pesan atau informasi, yaitu apa yang diucapkan; apa yang disampaikan.
3)     Resipiens, adalah orang yang mendengar atau menerima apa yang dikatakan atau disampaikan oleh komunikator.
4)     Medium, adalah tanda yang dipergunakan oleh komunikator untuk menyampaikan warta atau pesan.

            Supaya komunikasi dapat terjadi, dalam arti terjadi saling pengertian antara komunikator dengan resipens, harus ada perbedaan tanda, yang dimiliki oleh komunikator dan resipens, dapat dimengerti oleh keduanya.
            Apabila komunikator ingin menyampaikan sesuatu kepada resipens, berarti dia memiliki suatu maksud di dalam pikiran. Sesuatu yang ada di dalam pikiran komunikator ini, harus diterjemahkan ke dalam kode-kode yang dapat dimengerti oleh resipiens. Proses menerjemahkan sesuatu ke dalam kode-kode disebut kodefiksasi (Kodierung). Pendengar menangkap sesuatu yang dikodefikasikan oleh komunikator, lalu menerjemahkan ke dalam pengertiannya. Proses yang dilakukan resipiens ini disebut dekodefikasi (Dekodierung).
            Secara singkat proses komunikasi ini dapat dirumuskan sebagai berikut: siapa yang mengatakan (wer); apa yang dikatakan (sagt was); kepada siapa (zu wem); melalui medium apa (durch welches medium); dan dengan efek apa (mit welcher wirkung).
            Jadi, komunikasi adalah saling hubungan antara komunikator dan resipiens, dimana komunikator menyampaikan sesuatu pesan kepada resipiens, melalui medium untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

         2.             Retorika sebagai Proses Komunikasi
            Sebuah contoh: sebuah mobil bekas akan dijual. Pemilik mobil tentu ingin menjualnya dengan harga yang memuaskan (tujuan). Dalam pembicaraan dengan calon pembeli, penjual tentu tidak hanya menjelaskan tentang merk, tipe, tahun keluaran, dan cirri khas mobil, tetapi dia pasti juga akan memuji-muji mobil tersebut. Misalnya: terpelihara baik, bentuknya sangat cocok dengan keadaan jalan dan tidak pernah terjadi kecelakaan. Singkatnya: mobil bekas yang paling ideal, yang apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu murah.
            Di lain pihak calon pembeli juga ingin supaya dapat membeli mobil itu dengan harga yang murah (tujuan). Oleh karena itu, terjadi tawar menawar dalam perdagangan, dimana penjual dan pembeli saling memberi argumentasi untuk mencapai tujuannya masing-masing. Dari contoh di atas dapat dilihat aspek-aspek komunikasi retoris sebagai berikut:
1)     Seorang pembicara menyampaikan kepada;
2)     Seorang pendengar sebagai kawan bicara atau pelanggan;
3)     Dengan maksud dan tujuan tertentu (menjual mobil);
4)     Memberikan argumen-argumen terhadap isi pembicaraan;
5)     Sambil mendengar dan mempertimbangkan argument-argumen balik dari pendengar.

         3.             Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi Retoris
            Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris ini terdapat pada setiap unsur komunikasi seperti:
       a.         Pada Komunikator
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi retoris adalah:
a)     Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi.
            Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa dan keterampilan mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media komunikasi untuk mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk mengenal dan menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara komunikator dan resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses komunikasi.
b)     Sikap komunikator
            Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) atau cepat membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap rendah hati, rela mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang besar dalam proses komunikasi retoris.
c)     Pengetahuan umum
            Demi efektivitas dalam komunikasi retoris, komunikator sebaiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena dengan begitu dia dapat mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkan secara mendalam, teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan mengerti hal-hal praktis dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat menyampaikan sesuatu yang mampu menggugah hati mereka.
d)     Sistem sosial
            Setiap komunikator berada dan hidup dalam sistem masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jabatan yang dimiliki komunikator di dalam  masyarakat sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya: sebagai pemimpin atau bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
e)     Sistem kebudayaan
            Sistem kebudayaan yang dimiliki oleh komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris. Tingkah laku, tata adab, dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi.

       b.        Faktor-faktor Pada Resipiens
            Faktor-faktor ini pada umumnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikator.
1)     Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi.
Supaya dapat terjadi komunikasi, resipiens harus menguasai bahasa yang dipergunakan. Keduanya hanya dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti apabila mereka mempergunakan pembendaharaan kata yang sama dan yang dimengerti oleh kedua belah pihak. Komunikasi tidak akan terjadi apabila bahasa yang dipergunakan oleh komunikator tidak dimengerti oleh resipiens. Dalam hubungan dengan hal ini, perlu diperhatikan bahwa pendengar mempunyai cara mendengar dan mengerti sendiri, yang dapat berbeda dari apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh komunikator.
2)     Sikap resipiens
            Sikap-sikap positif seperti terbuka, senang, tertarik, dan simpatik akan memberi pengaruh positif dalam proses komunikasi; sebaliknya sikap-sikap negatif seperti tertutup, jengkel, tidak simpatik terhadap komunikator akan mendatangkan pengaruh negatif.
3)     Sistem sosial dan kebudayaan
            Sistem sosial dan kebudayaan tertentu dapat menghasilkan sifat dan karakter khusus pada resipiens. Orang dapat bersifat patuh, rendah hati, suka mendengar, tidak banyak bicara atau tidak berani menantang. Dilain pihak orang bisa menjadi kritis, suka membantah, dan tidak mudah tunduk kepada pimpinan. Juga cara menyampaikan sesuatu tidak sama di antara masyarakat. Sebab itu komunikator harus memperhatikan segala faktor ini, apabila dia mau mengharapkan efek yang besar dalam proses komunikasi dengan para pendengarnya.

c.              Faktor-faktor Pada Pesan dan Medium
Antara komunikator dan resipiens ada pesan dan medium. Kedua faktor ini perlu diperhatikan oleh komunikator secara khusus dalam proses komunikasi retoris.
1.     Elemen-elemen pesan
            Komunikator menerjemahkan pesan dengan mempergunakan medium. Komunikator harus memperhatikan elemen-elemen yang membentuk pesan, supaya komunikasi dapat membawa efek yang besar. Elemen-elemen itu berupa kata-kata dan kalimat, pikiran atau ide yang dibeberkan, alat peraga yang dipakai untuk mengkonkretisasi pesan, suara, tekanan suara, artikulasi, mimik dan gerak-gerak untuk memperjelas pesan yang disampaikan.
2.     Struktur pesan
            Yang perlu diperhatikan yaitu susunan organis di mana elemen-elemen itu dikedepankan untuk mengungkapkan pesan. Pada prinsipnya struktur atau susunan pesan harus jelas dan mudah dimengerti.
3.     Isi pesan
            Isi pesan yang diungkapkan lewat medium harus dipertenggangkan dengan situasi resipiens. Isi pesan seharusnya mudah ditangkap, tidak boleh terlalu sulit, dan tidak mengandung terlalu banyak kebenaran, karena dapat membingungkan resipiens. Sebaiknya isi pesan dibatasi pada satu atau dua pokok pikiran yang diuraikan secara jelas, terinci, dan tepat.
4.     Proses pembeberan
            Yang dimaksudkan adalah cara membawakan dan mengemukakan pesan dari komunikator. Ada tiga kemungkinan yang dapat dipilih, yaitu membawakan secara bebas, tanpa teks, terikat pada teks, atau setengah bebas. Ketiga kemungkinan ini membawa efek yang berbeda dalam proses komunikasi.

         4.             Kegunaan Komunikasi Retoris
                     Konrad Lorenz mengatakan, “Apa yang diucapkan tidak berarti juga didengar; apa yang didengar tidak berarti juga dimengerti; apa yang dimengerti tidak berarti juga disetujui; apa yang disetujui tidak berarti juga diterima; apa yang diterima tidak berarti juga dihayati; apa yang dihayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.”
Kalimat-kalimat di atas mengungkapkan kesulitan dalam proses komunikasi antarmanusia. Antara ide atau pikiran dan realisasinya yang konkret terbentang satu jalan panjang, yang memiliki berbagai macam kesulitan dalam penyampaian, sehingga dapat mengurangi efektivitas dalam proses komunikasi.
Oleh karena itu, komunikasi retoris itu penting supaya apa yang diucapkan dapat didengar; apa yang didengar dapat dimengerti; apa yang dimengerti dapat disetujui; apa yang disetujui dapat diterima; apa yang diterima dapat dihayati dan apa yang dapat dihayati dapat mengubah tingkah laku.


C.     Pembagian retorika :
Retorika adalah bagian dari ilmu bahasa (Linguistik), khususnya ilmu bina bicara (Sprecherziehung). Retorika sebagai bagian dari ilmu bina bicara ini mencakup:
1.      Monologika
Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, di mana hanya seorang yang berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah pidato, kata sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.
2.      Dialogika
Dialogika adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog, di mana dua orang atau lebih berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.
3.      Pembinaan Teknik Bicara
Efektivitas monologika dan dialogika tergantung juga pada teknik bicara. Teknik bicara merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena itu pembinaan teknik bicara merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam bagian ini, perhatian lebih diarahkan pada pembinaan teknik nafas, teknik mengucap, bina suara, teknik membaca dan bercerit
4.     Manfaat mempelajari retorika
Manfaat mempelajari retorika diantaranya yaitu :
1.     Membimbing penutur mengambil keputusan yang tepat.
2.     Membimbing penutur secara lebih baik memahami masalah kejiwaan manusia pada umumnya dan kejiwaan penanggap tutur yang akan dan sedang dihadapi.
3.     Membimbing penutur menemukan ulasan yang baik.
4.     Membimbing penutur mempertahankan diri serta mempertahankan kebenaran dengan alasan yang masuk akal.

6 komentar: